PUGUH ALAKADARNYA

FROM KUPER TO SUPER

Ramadhan & Idul Fitri Tanpa Sosok Seorang Ayah

Dimana…akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku….s`lalu ingin bertemu
Untukmu…aku bernyanyi

Lihatlah…hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah..aku ingin bertemu
Untukmu…aku bernyanyi

Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku…
Ayah, dengarkanlah aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…

 

Sebuah lagu yang berjudul Ayah karangan dari musisi legendaris Indonesia Rinto Harahap. Lagu yang ku dengarkan bersama gema takbir tadi malam tanda Hari Raya Idul Fitr 1432 Hi sudah ada yang merayakannya hari ini, Selasa 30 Agustus 2011. Namun aku sendiri masih berpuasa karena aku akan merayakan Hari Raya Idul Fitri pada hari Rabu sesuai dengan keputusan pemerintah yang diwakilkan kepada Kementerian Agama dan apa yang diyakini warga sekitar rumahku atau sebagian besar warga di desaku.

Tentunya ada alasan dan makna kenapa aku mendengarkan lagu tersebut. Lagu yang menggambarkan kerinduan seorang anak kepada Ayahnya. Sesuai gambaran tersebut, aku adalah anak yang merindukan sosok seorang Ayah yang seharusnya selalu ada disampingku di saat keberkahan, keindahan bulan suci Ramadhan dan gema takbir Hari Raya Idul Fitri serta saat bersungkem saling bermaafan antara aku dan kedua orang tuaku ketika sholat ied selesai. Bukan karena Ayahku meninggal atau meninggalkan aku dan Ibuku tanpa sebab, tapi beliau merantau ke negeri jiran membanting tulang tanpa henti dan tak pernah merasa lelah hanya untuk membahagiakan aku dan Ibuku dengan uang halal hasil dari keringat beliau hingga sama sekali tidak pernah merasakan kebersamaan keluarga di bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Jika aku berpikir sejenak, aku, Ibuku dan Ayahku hanya pernah satu kali kami bersama di bulan Ramdhan dan Hari Raya Idul FItri.

Ayahku hanya pulang jika memang kebutuhan sudah cukup. Biasanya beliau pulang dan berkumpul bersama aku dan Ibuku setiap 2 tahun sekali. Itupun pulangnya bukan saat pada hari-hari seperti ini. Beliau pulang dan bersama kami hanya akan berlangsung selama 3 bulanan dan pasti akan kembali ke negeri jiran untuk membanting tulang lagi.

Foto Ayah di Tahun 90-an

Sebagai seorang anak yang sekarang sudah menginjak usia 17 tahun, aku mulai merasakan betapa hebatnya Ayahku yang hanya akan membuatku malu karena sampai saat ini aku belum bisa membuat mereka Ayah dan Ibuku merasa bangga dengan anaknya. Teringat di saat aku masih kecil, kalau tidak salah masih SD, Ayahku yang sedang bekerja di negeri jiran menelpon aku dan ibuku melalui telepon Budeku, maklum saja dulu masih jarang orang yang punya HP dan telepon rumah. Aku akan merasa sangat senang sekali dan selalu merebut teleponnya dari Ibuku yang sedang berbicara dengan Ayahku. Aku selalu minta ini itu, selalu ngomel-ngomel gak karuan, ngomong sendiri seperti selayaknya anak kecil di usiaku, sampai-sampai membuat semua orang yang ada di rumah Budeku ketawa melihat tingkahku saat berbicara dengan Ayahku, dan tentunya Ayahku juga ikut tertawa. Meskipun beliau hanya menelepon setiap sebulan sekali aku dan ibuku sudah merasa senang saat beliau memberi kabar kalau beliau sehat-sehat saja.

Namun itu adalah masa kecilku, aku sekarang sudah mengerti betapa kerja kerasnya Ayahku. Beliau tak peduli panas terik matahari yang menyengat membakar punggungnya saat pagi hingga sore hari bekerja. Beliau tak peduli betapa dinginnnya malam meusuk sampai ketulang-tulang saat dia  menjadi satpam dadakan di negeri jiran. Mungkin dalam satu hari beliau hanya tidur sekitar 4 jam. Dengan majunya komunikasi, tentunya beliau sudah bisa meneleponku setiap saat karena rumah sudah terpasang telepon dan aku sudah dibelika HP oleh beliau. Setiap hari beliau pasti telepon ke rumah untuk selalu menanyakan bagaimana kabarku dan Ibuku, apa yang telah kami lakukan dalam sehari, apakah kami sudah makan atau belum, jika sudah masak apa, mengingatkan aku untuk tidak boleh mangkir dari kewajiban sholat 5 waktu, dan tentunya yang bikin aku senang beliau setiap dini hari pasti menelepon kami saat bulan Ramadhan, membangunkan kami agar beranjak dari tempat tidur untuk segera sahur.

Saat aku mulai masuk sekolah SMK, sikapku terhadap Ayahku sangat berbeda jauh dengan yang dulu, aku cenderung bersikap dingin dan acuh dan tidak banyak omong terhadap beliau. Itu semua adalah salah satu wujud rasa rindu dan malu terhadap beliau. Aku yang selalu membuatnya menangis, bukan menangis dengan air mata, tapi aku yakin beliau akan sakit hati dan hatinya akan menangis saat melihat aku tidak bisa membuatnya bangga dan menyia-nyiakan apa yang telah dia korbankan selama ini.

Foto Ibu di Tahun 90-an

Marhaban Ya Ramadhan, Minal Aidin Walfaidizin, semua itu tanpa kehadiran seorang Ayah. Aku hanya sendirian meratapi masa depanku, aku hanya tinggal berdua dengan Ibuku di rumah yang sederhana ini. Aku tak mau mengecewakan mereka. Ayahku seorang TKI yang membanting tulang tak kenal lelah tak kenal waktu dan Ibuku seorang penjual jajan gorengan yang mendidikku dengan penuh kesabaran agar aku menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada orang tua sampai saat ini tanpa ditemani seorang Ayah.

Ramadhan yang seharusnya dilalui bersama keluarga, aku lalui hanya dengan Ibuku. Idul Fitri besok pasti akan sama seperti Idul Fitri tahun kemarin, yang seharusnya bermaafan dan bersungkeman antara aku dan kedua orangtuaku, aku lalui hanya dengan sungkem dan pelukan kasih sayang seorang Ibu. Dan kata ucapan maaf dan selamat yang hanya bisa diucapkan Ayahku melalui telepon. Mungkin beliau di sana menahan tangis, itulah lelaki seorang pemimpin yang tidak mau istri dan anaknya melihatnya menangis. Beliau hanya menangis di dalam hati. Akupun juga berusaha seperti itu, aku hanya menangis di dalam hati tanpa sepengetahuan Ibuku yang pasti akan mengucurkan air mata sambil memeluk aku di hari raya Idul Fitri seusai sholat ied.

Besok adalah 1 Syawal, aku sadar bahwa ternyata selama ini secara tidak langsung Ayahku sudah mengajariku bagaimana menjadi seorang pemimpin di dalam keluarga. Hari kemenangan ini adalah arti bagaimana aku sukses menjaga Ibu dan rumah sederhana ini tanpa ditemani seorang Ayah. Dan sampai kapanpun aku akan berusaha untuk menjaga Ibuku sampai kulit yang sudah keriput, rambut yang sudah mulai memutih, tubuh yang terlihat sudah lemah karena kelelahan mencari nafkah itu mengetuk pintu dan mengucapkan salam tanda bahwa Ayahku sudah pulang dan melihat darah dagingnya sudah besar serta istrinya yang tetap setia menunggunya tanpa ada luka sedikitpun.

Di akhir bulan Ramadhan ini, aku akan memantapkan diri untuk berusaha menghapus kelelahan dan kesabaran Ayah dan Ibuku dalam mendidikku sampai saat ini. Meskipun itu sulit dan pasti ada godaan untuk bermain-main aku akan berusaha untuk tetap membahagiakan mereka, menghapus kelelahan dan kesabaran mereka dengan menggapai cita-cita dan impianku yang bisa membuat mereka tersenyum menangis bahagia. Dan apa salahnya kalau aku berangan-angan ingin menjadi seperti Biil Gates Bapak Komputer Dunia dengan  pendapatannya yang mencapai 1 detik = 2,5 juta ; 1 menit = 153 juta ; 1 jam = 9,1 milyar ; 1 hari = 220 milyar ; 1 minggu = 1,54 triliun ; 1 bulan = 6,1 triliun ; 1 tahun = 74 triliun. Waaawwww hahaha cita-cita yang gak mungkin kesampaian, hehehe maaf becanda😀.

Itulah sedikit kisahku, anak tunggal yang ditinggal Ayahnya membanting tulang demi keluarga. Saat menulis memang tanpa sadar mata sampai berkaca-kaca. Tulisannnya jadi gak karuan, gak tertata, terlihat terlalu apa adanya dan tanpa saya sunting. Mengalir begitu saja sesuai dengan kata hati saya. Sampai-sampai yang biasanya menggunakan kata “SAYA” menjadi kata “AKU”. Heheheh sekian dulu ya, sampai jumpa di kisah-kisahku yang lainnya🙂.

perlu diingat !! saya di dunia nyata memanggil mereka dengan sebutan Bapak dan Emak, bukan Ayah dan Ibu, hehehe😀

Photobucket

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H | MOHON MAAF LAHIR & BATIN | PUGUH ALAKADARNYA

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

One response to “Ramadhan & Idul Fitri Tanpa Sosok Seorang Ayah

  1. adhie 30/08/2011 pukul 17:54

    keren……….

Budayakan Berkomentar Untuk Para Pembaca :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: